PNPM Mandiri Perdesaan Kabupaten Muaro Jambi

Tampilkan postingan dengan label Good Practices. Tampilkan semua postingan

PENTINGNYA PAPAN INFORMASI


Masyarakat Desa Pudak Kecamatan 
Kumpeh Ulu melihat Papan Informaasi
Seperti yang di gambarkan dalam PTO penjelasan I menengenai Sosialisasi dan Penyebaran Informasi di sini disebutkan Sosialisasi dan penyebaran informasi dalam PNPM Mandiri Perdesaan merupakan upaya untuk memperkenalkan dan menyebarluaskan informasi mengenai program dan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat. Upaya ini juga diharapkan menjadi media pembelajaran mengenai konsep, prinsip, prosedur, kebijakan, tahapan pelaksanaan dan hasil pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan kepada masyarakat luas.

Masyarakat yang dimaksud adalah masyarakat penerima manfaat langsung kegiatan, yakni Rumah Tangga Miskin; para pelaku program; instansi atau lembaga pendukung pelaksana PNPM Mandiri Perdesaan lainnya, baik dari kalangan pemerintah dan swasta; serta kelompok masyarakat umum lainnya.

Hasil yang diharapkan dari proses sosialisasi dan penyebaran informasi adalah dimengerti dan dipahaminya konsep, prinsip prosedur, kebijakan dan tahapan pelaksanaan PNPM Mandiri Perdesaan secara utuh, khususnya masyarakat di lokasi program sebagai pelaku sekaligus sasaran penerima program, masyarakat umum, instansi atau lembaga lainnya. Dengan demikian, upaya pelembagaan dan pengintegrasian prinsip serta prosedur program dalam masyarakat dan sistem pemerintahan regular, dapat berjalan optimal.
Guna mencapai pemahaman yang utuh tentang PNPM Mandiri Perdesaan di lokasi program, serta dalam rangka meningkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat luas terhadap keberadaan program, maka dalam pelaksanaannya, proses sosialisasi dan penyebaran informasi ini harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan oleh berbagai pihak. Baik dalam berbagai kesempatan dan kegiatan yang khusus dibuat oleh program maupun kesempatan dan kegiatan lain terdapat di setiap lokasi program.

Masyarakat Desa Pudak Kecamatan 
Kumpeh Ulu melihat Papan Informaasi


Kecamatan Kumpeh Ulu pada Tahun Anggaran 2013 mendapatkan bantuan Dana DOK PNPM Mandiri Perdesaan sebesar Rp. 108.380.000, Dari dana tersebut dianggarkan untuk membuat papan informasi dari Banner sebesar Rp. 2.160.000,- untuk 18 Desa.
Di dalam PTO PNPM Mandiri Perdesaan ada beberapa Prinsip Dasar yang harus kita ketahui yaitu:
1.    Bertumpu pada pembangunan manusia
2.    Otonomi
3.    Desentralisasi
4.    Berorientasi pada masyarakat miskin
5.    Partisipasi
6.    Kesetaraan dan keadilan Gender
7.    Demokrasi
8.    Transparansi dan Akuntabel
9.    Prioritas
10.    Keterpaduan, keselarasan dan kesatupaduan kebijakan
11.    Keberlanjutan

Dari beberapa prinsip diatas yang tak kala pentingnya adalah Transparansi, salah satu media transparansi adalah Papan Informasi, keberadaan papan informasi sangat di butuhkan masyarakat selain media-media lainnya untuk mengetahui informasi baik mengenai informasi dari PNPM-MPd atau pun informasi umum, papan informasi ini dibuat juga untuk mensosialisasikan kepada masyarakat mengenai Tujuan PNPM, Prinsip PNPM dan Kriteria Kegiatan, terutama di kriteria Kegiatan sering kali masyarakat mengajukan Usulan tidak sesuai dengan kriteria yang di kehendaki oleh Program, Oleh karena itu tim Kecamatan Kumpeh Ulu berencana membuat papan informasi dari banner ini dan akhir nya pada tanggal 14 Februari 2014 Papan Informasi itu pun sudah selesai di kerjakan oleh percetakan, pada saat Rakor KPMD tanggal 24 Februari 2014, Papan Informasi ini pun di serahkan ke KPMD Desa untuk di letakkan di tempat-tempat umum di desa masing-masing.
Learn more »

AKU MAU PINTAR


Masnia (Nia) 47 tahun adalah ibu rumah tangga yang ingin membantu suaminya dalam mencari nafkah untuk pemenuhan kebutuhan hidup keluarga mereka. Ibu Nia adalah warga Desa Simpang Limo Kecamatan Jambi Luar Kota. Ibu Nia sudah kenal PNPM sejak tahun 2010, tetapi dia masih belum paham betul apa itu sebenarnya PNPM Mandiri Perdesaan.

Pada tahun 2013 ibu Nia dan masyarakat di sekitar rumahnya mengajukan Usulan Peningkatan Kapasitas “Pelatihan Menjahit” dan ternyata usaha Tim Enam desa Simpang Limo untuk memperjuangkan usulan Ibu Nia dan teman-temannya tersebut berhasil mendapat perioritas untuk terdanai PNPM-MPd pada tahun 2013 itu.

Dalam pelatihan itu ternyata ibu Nia adalah peserta pelatihan yang paling tua usianya 46 tahun, tetapi ibu Nia tidak mau kalah dari peserta yang lainnya yang notabene usianya jauh lebih muda darinya. Selama pelatihan semua peserta dapat mengikuti pelatihan dengan baik. Sampai pada tahap akhir pelatihanpun Ibu Nia ternyata mendapat kesempatan ikut pelatihan/belajar gratis di tempat TUTOR/pelatih menjahit tersebut dengan modal bahan sendiri. Akhirnya Ibu Nia melanjutkan pelatihannya. 

Sekarang Ibu Nia sudah dapat merancang dan menjahit Busana Pengantin dibantu dengan teman-temannya. Kami sangat senang mendengar kabar terakhir yang kami terima dari Ibu Nia satu bulan yang lalu, saat ini Ibu Nia sudah menerima orderan menjahit di rumahnya, jahitan yang diterimapun sudah berbagai jenis model pakaian mulai dari baju dan rok biasa sampai pada kebaya sudah bisa dikerjakannya, walaupun masih dari warga desa sekitar tetapi hasilnya sudah dapat dirasakan Ibu Nia dan keluarga. Saat ini Ibu Nia sudah bisa membeli Mesin Obras sendiri dan juga sudah menerima Borongan jahitan dari Madrasah sekitar. 

Saat ini masyarakat Desa Simpang Limo sudah bisa merasakan manfaat Pelatihan yang di danai PNPM-MPd dan sejak Dua Bulan yang lalu Ibu Nia mendapatkan Beasiswa untuk Belajar Desain Mode di LKP PUSPITA yang dananya berasal dari salah satu lembaga keterampilan di Bandung  dan akan membuka pelatihan gratis juga untuk masyarakat desa simpang limo karena sekarang yang selalu ditanamkan oleh ibu nia pada masyarakat di sekitar tempat tinggalnya hanya satu kalimat “aku mau pintar”. Pintar dalam segala hal, belajar sampai kapanpun karena belajar tidak kenal usia.

 “Tuntutlah Ilmu mulai dari ayunan sampai Liang Kubur”. 

Contoh Hasil Jahitan Ibu NIA




Learn more »

Ciptakan Pelatihan Masyarakat Yang Lebih Bermasyarakat

Pelatihan masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan yang dilaksanakan dalam PNPM Mandiri Pedesaan. Bahkan bisa dikatakan sebagai suatu kegiatan wajib untuk dilakukan program. Kegiatan pelatihan yang diberikan tersebut biasanya terwujud dalam bentuk In Service Training (IST) tidak jarang pula diberikan dalam bentuk On The Job Training (OJT).

Menjadi unik kegiatan pelatihan yang dilakukan oleh PNPM Mandiri Pedesaan, karena orang-orang yang mengikuti pelatihan atau yang dalam istilah pendidikan disebut warga belajar berasal dari orang-orang dewasa yang tentunya sebelum mengikuti pelatihan telah memiliki beragam pengalaman dan pengetahuan. Lebih  dari pada itu, terkadang antar sesama peserta pelatihan sendiri memiliki perbedaaan latar belakang yang sangat mencolok baik itu dari sisi taraf pendidikan, profesi, maupun jabatan.
Ada peserta pelatihan yang hanya berlatarbelakang pendidikan sekolah dasar tapi sebaliknya ada pula yang jenjang pendidikannya sarjana atau pasca sarjana. Begitu pula dari latar belakang pekerjaan, ada peserta yang kerjanya bertani/kebun tapi tidak jarang pula yang bekerja disektor formal dan sebagai profesional. Begitu pula halnya dalam hal jabatan.

Perbedaan ini tentunya membawa pengaruh yang besar dalam berjalannya kegiatan pelatihan. Yang tentunya mengharuskan penyelenggara yang dalam hal ini fasilitator untuk pintar-pintar mencari cara atau metode sehingga kegiatan pelatihan tidak hanya bisa merangkul setiap perbedaan yang ada tapi juga bisa membuat kegiatan pelatihan lebih menarik bagi setiap peserta.
Banyak cara yang bisa dilakukan, salah satunya adalah dengan memberikan kepercayaan kepada masyarakat sendiri untuk menjadi narasumber/tenaga pelatih. Banyak keuntungan yang bisa diperoleh dengan cara ini diantaranya adalah, pertama, kegiatan pelatihan akan berlangsung lebih “membumi” karena narasumber sangat mengerti dengan karakter masing-masing peserta. Selain itu, adalah komunikasi antara peserta dengan narasumber berjalan efektif, karena memiliki kesamaan bahasa. Ada hal-hal yang ingin dicapai melalui materi pelatihan akan lebih gampang diserap oleh peserta karena dikomunikasikan dengan menggunakan bahasa/istilah lokal.

Kedua, jika narasumber yang dipilih dari masyarakat memiliki wibawa/kharisma yang besar ditengah masyarakat. Maka, setiap kata-kata yang disampaikannya akan didengar dan dijadikan patokan oleh peserta. Hal ini bisa terjadi karena salah satu ciri-ciri dari masyarakat desa adalah masih bersifat paternalistik. Ketiga, dari sisi pengkaderan maka melibatkan masyarakat setempat sebagai tenaga pelatih sama artinya dengan kita menciptakan kader pelatih bagi masyarakat.

Kecamatan mestong sebagai salah satu lokasi PNPM Mandiri Pedesaan selalu melibatkan tokoh masyarakat atau orang-orang yang memiliki kapasitas sebagai tenaga pelatih. Terutama terhadap materi pelatihan yang bersifat umum seperti pelatihan tim pemelihara, tim pemantau, KPMD, kades dan BPD. Terhadap materi yang bersifat teknis atau membutuhkan pengetahuan/keahlian khusus, maka tenaga pelatih difasilitasi hanya pada hal-hal umum seperti tujuan yang akan dicapai dalam pelatihan dan durasi waktu yang dialokasikan, sedangkan untuk materi dan metode pembelajaran diserahkan langsung kepada narasumber untuk menyiapkannya.

Namun, tidak jarang pula sebagai salah satu upaya pengkaderan. Pelaku-pelaku ditingkat kecamatan ditugaskan untuk menjadi narasumber dalam suatu pelatihan. Tentunya untuk hal seperti ini dibutuhkan pendampingan yang ekstra, mulai dari menyusun materi hingga lesson plan sebagai pedoman bagi mereka dalam menyampaikan materi yang ditugaskan. Untuk tahap awal memang relatif merepotkan namun seiring berjalannya waktu kemampuan mereka menjadi tenaga pelatih mulai menampakkan hasil dan dinilai cukup memuaskan.
Fasilitator tidak dituntut menjadi orang yang serba tahu, tapi wajib menjadi orang yang serba bisa. Sehingga memaksakan diri untuk menjadi narasumber terhadap satu jenis materi pelatihan yang sudah jelas tidak dipahami karena butuh keterampilan dan pengetahuan khusus merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan.  

Learn more »

MENABUR BENIH - BENIH KEBAIKAN

Keberhasilan PNPM Mandiri Pedesaan dalam melaksanakan pola pembangunan partisipatif oleh banyak pihak bukan rahasia lagi. Setidaknya dari setiap kunjungan pejabat mulai dari level kabupaten hingga pusat memuji keberhasilan PNPM Mandiri Pedesaan dalam melaksanakan kegiatan terutama sarana prasarana dengan dana yang relatif kecil tapi kualitas terjamin.

Begitu pula dengan pengelolaan dana bergulir semacam SPP, tanpa jaminan tapi bisa minim tunggakan. Lantas apakah itu satu-satunya indikator keberhasilan?
Penting pula kiranya untuk menilai PNPM Mandiri Pedesaan dari sisi lain. Karena sebagai suatu program pemberdayaan tentunya misi besar yang dibawa PNPM Mandiri Pedesaan itu adalah bukan seberapa indah bangunan fisik yang dihasilkan atau seberapa kecil tunggakan dana bergulir yang bisa dicapai. Jauh dari pada itu, misi yang ingin dicapai adalah seberapa hebat pola pikir masyakarakat bisa dirobah.

Cerita-cerita ringan dari para pelaku ditingkat desa dalam setiap kesempatan setidaknya bisa memberikan gambaran awal akan hal itu. Beberapa pelaku-pelaku PNPM Mandiri Pedesaan khususnya di tingkat desa biasanya juga dipercaya masyarakat untuk memegang jabatan atau sebagai pengelola di program-program pembangunan sejenis lainnya.

Dari pengalaman sebagai pelaku di PNPM Mandiri Pedesaan dan juga sebagai pengurus di kegiatan-kegiatan lain, mereka tanpa sadar menyanjung dan respek terhadap setiap proses yang ada di PNPM Mandiri Pedesaan yang justru selama ini mereka anggap sangat berbelit-belit dan menyita banyak waktu dan tenaga. Mereka memuji keterbukaan dan nilai-nilai kejujuran yang dipegang teguh PNPM Mandiri Pedesaan, yang selama ini mereka nilai terlalu lebay, begitu pula dengan pola pendampingan yang diterapkan oleh PNPM Mandiri Pedesaan yang selama ini dikatakan seolah-olah tidak percaya dengan orang desa.

Suatu ketika salah seorang pengurus TPK bercerita mengenai pengalamannya menjadi pengurus disalah satu kegiatan pembangunan yang didanai oleh pihak lain, yang menurutnya terlalu banyak intervensi yang bersifat negatif seperti tidak ada keterbukaan dan penuh intrik dalam pengelolaan dana. Sehingga, membuat dirinya tidak nyaman bahkan sempat berfikir untuk mengundurkan diri.
Tapi, berbekal pengalaman sebagai pengurus TPK di PNPM Mandiri Pedesaan dirinya tetap istikomah menjalankan apa yang diyakininya benar serta mengabaikan intervensi-intervensi negatif yang datang walaupun dengan begitu banyak ancaman yang didapatkannya mulai dari akan dipersulit penyaluran dana tahap berikutnya dan lain sebagainya. Berkat keteguhannya dalam memegang amanah akhirnya kegiatan pembangunan yang dilaksanakan pada akhirnya juga bisa diselesaikan bahkan melebihi dari target yang telah direncanakan di dalam RAB seperti layaknya terjadi dalam pola pembangunan yang dilaksanakan oleh PNPM Mandiri Pedesaan. 

Lain halnya dengan pengalaman salah satu kader teknis, berbekal pengetahuan yang didapatkannya dari beberapa kali mengikuti pelatihan yang dilaksanakan PNPM Mandiri Pedesaan. Suatu ketika desanya mendapatkan bantuan dana dari program sejenis, tahap demi tahap diikutinya hingga akhirnya ia dipilih oleh masyarakat desa sebagai tim pengelola.

Tapi, sebaliknya ia menolak permintaan masyarakat tersebut justru memilih untuk menjadi pihak yang akan memantau atau dalam PNPM Mandiri Pedesaan dikenal dengan Tim-18 (tim pemantau) hal ini dilakukannya karena ingin memastikan apakah kegiatan pembangunan yang dilaksanakan nantinya bisa berjalan dengan baik. Setelah melihat desain dan RAB dari apa yang akan dikerjakan dinilai olehnya banyak hal-hal yang tidak sesuai sehingga dirinya memberikan masukan bagi perbaikan meskipun masukannya tersebut terkadang sering membawa kepada perdebatan dengan pihak-pihak yang membuat desain dan RAB tersebut.

Bahkan tidak jarang guna memastikan kebenaran dari apa yang disampaikannya itu dirinya harus  mengajak langsung orang-orang yang terlibat dalam penyusunan desain dan RAB untuk kembali ke lokasi dimana pembangunan akan dilakukan guna melakukan penghitungan dan survey secara detail.
Nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan keterbukaan sebenarnya sudah ada dan berkembang ditengah masyarakat.

Tinggal bagaimana potensi tersebut dieksplotasi secara mendalam sehingga tidak terkubur dalam kuatnya kecenderungan orang-orang untuk berbuat curang dan hal-hal negatif lainnya. Dari beberapa kutipan cerita diatas, bolehlah kiranya sedikit berbangga hati karena PNPM Mandiri Pedesaan tidak hanya bisa membangun fisik yang berkualitas dan mengelola dana bergulir dengan minim tunggakan tapi juga setidaknya telah berhasil membawa misi mulianya ditengah masyarakat yakni memunculkan nilai-nilai kebaikan yang ada.

Mengharapkan pelaku apalagi masyarakat desa secara umum untuk menghapal setiap alur tahapan pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan mungkin bukan persoalan gampang. Tapi, mengajak bagaimana bekerja dengan penuh kejujuran, dan menjunjung niali-nilai keterbukaan jauh lebih hebat dari apapun segalanya.
Begitu pula halnya dengan tujuan mengurangi angka kemiskinan yang ada didesa tentunya beban yang sangat berat untuk bisa dicapai, dibutuhkan waktu panjang dan keterlibatan banyak pihak.

Apalagi hanya dilaksanakan oleh PNPM Mandiri Pedesaan tentu tak akan bisa. Tapi, tidakkah menularnya virus-virus kebaikan dan keterbukaan ditengah masyarakat merupakan langkah awal yang besar bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera? Kiranya inilah sumbangan terbesar yang bisa diberikan oleh PNPM Mandiri Pedesaan dipenghujung jalan pelaksanaan program. Semoga... (FK/ Mestong)  
Learn more »

DILEMA SANKSI MAD

Entah siapa dan sejak kapan sanksi MAD tentang black list terhadap desa yang menghadapi masalah khususnya  tunggakan SPP dimulai. Yang jelas, hampir semua kecamatan lokasi PNPM mandiri Pedesaan menerapkan sanksi tersebut. Walaupun pada dasarnya sanksi MAD tersebut merupakan sanksi lokal yang tidak harus berlaku sama disetiap kecamatan.

Bukan persoalan salah atau benar, apalagi memvonis telah terjadi salah asuhan. Tapi sadar atau tidak sanksi itu muncul setidaknya melalui fasilitasi dari berbagai pihak khususnya fasilitator yang pada awal-awal merintis berjalannya PNPM Mandiri Pedesaan di satu kecamatan. Hingga bertahun-tahun sanksi itu berlaku, disatu sisi memang bisa dikatakan sanksi itu relatif cukup efektif  setidaknya dalam upaya menyelesaikan permasalah tunggakan SPP disuatu desa.

Tapi menjadi pertanyaan besarnya adalah, benarkah selesainya tunggakan SPP menjadi satu-satunya indikator keberhasilan? Jika jawabannya iya, maka apakah itu bukan suatu upaya yang bersifat seperti pemadam kebakaran bereaksi karena adanya api. Padahal dalam kegiatan pemberdayaan bagaimana proses hingga suatu masalah bisa diselesaikan menjadi nilai-nilai penting. Karena, mungkin sudah sama-sama dipahami bahwa salah satu prinsip PNPM Mandiri Pedesaan adalah Berorientasi Pada Pembangunan Manusia.

Maksudnya agar setiap tahapan/proses dalam pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan, sebanyak mungkin masyarakat harus terlibat agar bisa belajar dan mengambil hikmah. Sehingga, dana yang dikelola dalam PNPM Mandiri Pedesaan baik itu digunakan untuk membangun sarana prasarana maupun dana perguliran, bisa dipahami hanyalah alat untuk menstimulasi/menggerakkan setiap potensi yang ada di masyarakat. 

Mari kita amati bagaimana sanksi MAD tersebut berjalan dilapangan. Bagi desa yang entah kepala desa atau desanya dalam kondisi mapan terutama dalam hal finansial. Sanksi MAD selalu bisa dilewati karena tunggakan bisa langsung ditutupi dengan dana yang ada tanpa melibatkan kelompok yang awalnya bermasalah. Tunggakan di UPK dinyatakan selesai dan desa mendapat tiket untuk ikut dalam MAD prioritas Usulan.

Namun, malang bagi desa yang dalam kondisi serba terbatas jangankan untuk menutup masalah tunggakan SPP, untuk transportasi ke kecamatan guna mengikuti MAD saja desa kesulitan dan tidak jarang harus ngutang. Sehingga saat desanya di black list tim enam desanya harus rela pulang lebih awal karena tidak bisa ikut dalam prioritas usulan walaupun usulan desanya merupakan usulan yang menurut tim verifikasi benar-benar berkualitas dan diperkirakan bisa membawa dampak besar bagi peningkatan ekonomi masyarakatnya.  

Ironi memang, disatu sisi ada sanksi MAD yang harus dengan ketat diterapkan karena sudah terpatri dalam setiap pemikiran masyarakat, disisi lain jika sanksi itu tetap diberlakukan maka akan terjadi desa yang maju bertambah maju, desa yang terbelakang akan makin terpuruk. Sangat bertentangan kiranya dengan tujuan PNPM Manidiri Pedesaan itu sendiri yang harusnya berorientasi pada masyarakat miskin.

Masih relevankah desa di balck list ? 
Jika menilik pada pola penanganan pinjaman bermasalah yang diatur dalam Petunjuk Teknis Operasional (PTO) penjelasan X tentang Pengelolaan Dana Bergulir. Maka, bisa dikatakan tidak ada desa yang boleh di black list dari keikutsertaannya dalam MAD Prioritas Usulan yang dilaksanakan setiap tahun anggaran. Karena, setiap jenis masalah yang terjadi di desa ada langkah-langkah yang bisa ditempuh dalam penyelesaiannya. 

Pengertian pinjaman bermasalah sebagaimana dimaksud dalam PTO penjelasan X adalah sebagai berikut :
1.    Tunggakan angsuran  diatas 3 bulan untuk jadwal pinjaman yang diangsur setiap bulan
2.    Tunggakan angsuran diatas 4 bulan untuk jadwal pinjaman yang diangsur per triwulan
3.    Tunggakan angsuran diatas 7 bulan untuk jadwal pinjaman yang diangsur per 6 bulan
4.    Tunggakan akibat tidak berfungsinya kelompok

Seharusnya, jika dalam satu desa yang mengalami masalah seperti tersebut diatas segera melakukan langkah-langkah penanganan dengan membentuk Tim Penyehat Pinjaman (TP2), karena masalah tersebut sudah masuk dalam kategori kolektibilitas III sehingga tidak bisa ditanggulangi lagi oleh UPK sendiri.
TP2 inilah nantinya yang akan turun ke sumber masalah yang dalam hal ini kelompok SPP guna melakukan identifikasi penyebab masalah sebagai dasar mengambil langkah penyelesaian. Sebaiknya investigasi yang dilakukan oleh TP2 jauh-jauh hari sebelum dilaksanakannya MAD Prioritas Usulan. Sehingga semua permasalahan sudah terselesaikan sehingga sanksi black list terhadap desa bisa dihindari.
Dari data identifikasi yang dikumpulkan oleh TP2 nantinya setidaknya agar berkutat pada penyebab-penyebab  sebagaimana dibawah ini :
1.    Permasalahan kelembagaan; merupakan masalah yang terjadi karena kurang berfungsinya kelembagaan yang dibangun oleh program seperti pengurus kelompok tidak aktif, Tim Verifikasi yang kurang berfungsi dengan baik sehingga terjadi kelompok fiktif, dan lain-lain.
2.    Permasalahan micro-finance; merupakan permasalahan yang berkaitan dengan kondisi keuangan kelompok akibat dari kegagalan usaha.
3.    Permasalahan Penyelewengan baik oleh pengurus kelompok ataupun pelaku lain seperti TPK atau pengurus UPK
4.    Permasalahan force majeure; yakni masalah yang terjadi karena hal-hal yang tidak direncanakan dan tidak bisa dihindari seperti bencana alam, kematian.

Dari permasalahan yang ada akan menghasilkan pola penanganan yang berbeda pula. Setidaknya ada beberapa pola penanganan yakni restrukturisasi, rescheduling, kompensasi harta, penghapusan pinjaman hingga ke jalur hukum. Nah, ketika TP2 telah melakukan rekomendasi dan forum MAD telah mengambil kata sepakat terhadap rekomendasi TP2, selesailah kiranya permasalahan yang ada setidaknya dari sisi keprograman. Dan sanksi MAD harusnya sudah tidak relevan lagi untuk diterapkan. Tidak terbayangkan juga bila suatu kasus sudah berada di ranah hukum, tapi desa tetap mendapatkan hukuman black list.

Reward and punishment memang sesuatu yang sah-sah saja dalam kegiatan pemberdayaan. Penghargaan, sanjungan,pujian kepada masyarakat yang dengan penuh kesadaran berbuat mengikuti aturan perlu diberikan sebagai suatu bentuk motivasi. Sebaliknya hukuman kepada yang berbuat curang dan bertentangan dengan aturan perlu diberikan sebagai bentuk penyadaran. Tapi, menjadi lucu kiranya bila hukuman diberikan justru kepada orang/pihak yang seharusnya membutuhkan pertolongan atau perlindungan.

Ini menjadi penting kiranya untuk dibahas bersama-sama oleh banyak pihak, agar dipenghujung jalan pelaksanaan PNPM Mandiri Pedesaan ini kita bisa mewariskan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat. Sehingga, hadirnya PNPM Mandiri Pedesaan bisa benar-benar menjadi solusi bukan malah manambah rumit masalah yang ada di masyarakat. (FK/Mestong)    
Learn more »

TAHAN LAMA, UNTUK KITA SEMUA

“ ............Bapak-Bapak dan Ibu-ibu sekalian salah satu prinsip program PNPM MP adalah keberlanjutan,  Pengertian prinsip keberlanjutan adalah bahwa dalam setiap pengambilan keputusan atau tindakan pembangunan, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemeliharaan kegiatan harus telah mempertimbangkan sistem pelestariannya...............

 Bapak-bapak dan  Ibu-ibu  sekalian, bahwa salah  satu  temuan  auditor eksternal yang sering menjadi temuan disetiap kegiatan PNPM MP adalah dari komitmen kita untuk menjalankan prisip keberlanjutan setelah kegiatan PNPM MP diserahkan  kedesa, dimana kebanyakan bangunan atau sarana yang telah dibangun banyak tidak dipelihara, sedangkan salah satu wujud komitmen terhadap prinsip program yaitu keberlanjutan, kita harus menjaga, memelihara dan melestarikannya bersama pelaku program yang telah kita bentuk yaitu tim pemeliharaan dan pelestarian  prasarana desa......................”

Itulah  salah satu atau sedikit petikan bagian fasilitasi oleh seorang fasilitator kecamatan, KPMD dan PL ataupun pelaku program lainnya dengan penuh semangat ketika menjalankan tugasnya di masyarakat dalam tahap kegiatan sosialisasi program ataupun pesan ketika bangunan atau sarana yang telah selesai dan  akan diserahkan kedesa dalam bentuk tahapan kegiatan musyawarah desa serah terima.

Fasilitasi ini sering kita dengar dan disampaikan ke masyarakat dengan besar harapan masyarakat dapat memelihara dan melestarikan setiap sarana yang telah dibangun dan sebagai wujud komitmen menjalankan salah satu prinsip program PNPM MP dengan tujuan kita tidak dianggap lalai oleh auditor eksternal untuk mejalankan prinsip keberlanjutan tersebut .

Namun tidak kita pungkiri bahwa masih ada sarana prasarana ataupun alat-alat dalam kegiatan pelatihan untuk peningkatan kapasitas masyarakat ternyata setelah proses selesai dan kita serahkan kedesa dalam waktu perjalananya ternyata hanya dimanfaatkan tetapi tidak dipelihara.

Masih ada alat-alat mesin jahit yang rusak tidak bisa dipakai tetapi kelompok pemanfaat ataupun desa tidak berusaha untuk memperbaikinya dan hanya dipakai dari alat mesin jahit yang masih bisa dimanfaatkan. Dapat kita bayangkan jika pemeliharaan atau pelestarian mesin jahit ini tidak ada maka semua alat mesin jahit akan menjadi barang antik yang menumpuk di lokasi kegiatan ataupun belumur debu dikantor desa.

Ketika proses penggalian usulan didesa sudah melalui proses yang benar, ketika usulan itu muncul juga merupakan dari proses prioritas masyarakat bahwa usulan tersebut sangat dibutuhkan dan bukan hanya sekedar keinginan belaka. Namun kenapa setelah waktu yang lama justru sarana dan parasarana yang telah dibangun tidak dipelihara dan dilestarikan sesuai dengan penggalian usulan yang katanya sangat dibutuhkan itu, itulah pertanyaan yang kadang-kadang membuat kita merasa bersalah dalam proses fasilitasi dimasyarakat dimana banyak kesan kalau fasilitasi kita salah nyatanya sarana yang telah dibangun tidak dipelihara atau dilestarikan berarti masyarakat itu tidak butuh dan bukan usulan prioritas dimasyarakat.

Sebagian permasalahan pemeliharan dan pelestarian juga sudah kita fasilitasi untuk pembuatan perdesnya dari sarana tersebut, bahkan cara pembuatan perdes itu sendiri juga sudah diberi pendampingan program melalui peningkatan kapasitas pelaku didesa misalnya pelatihan kades, sekdes, BPD ataupun LPM. Dengan harapan desa dapat mengatur pengelolaan pemenfaatan sarana yang ada untuk menunjang pendanaan guna membantu operasional tim pemeliahara menjalankan tugas dan fungsinya sebagai tim pemeliharaan dan pelestarian sarana tersebut.
Terlepas dari pembahasan diatas, bahwa proses kegiatan program mulai dari perencaan, pelaksanaan, pemanfaatan, pengawasan sampai pelestarian adalah diserahkan ke desa. Membutuhkan tenaga, pikiran, waktu bahkan materi untuk mandapatkan sebuah sarana yang kita harapkan dengan tjuan dapat membantu mengatasi permasalahan atau kesusahan yang ada. Dulu kemungkinan kita belum puas dengan yang ada bahkan akan menimbulkan masalah lebih besar jika penyebab permasalahan itu tidak segera kita atasi. Sekarang permasalahan itu telah terselesaikan dengan adanya pelaksanaan pembangunan didesa kita untuk membantu penyelesaikan permasalahan tersebut.

Dengan telah dibangunya sarana untuk menyelesaikan permasalahan yang ada tidakah sewajarnya kita harus menjaga, memelihara dan melestarikan bangunan yang telah kita dapat dengan susah payah ini. Dapatkah kita bayangkan sarana yang ada ini hanya kita yang memanfaatkan dimasa kita masih ada tetapi tidak kita terpikirkan bahwa sarana yang ada dapat bertahan sampai ke anak-anak kita bahkan sampai ke cucu-cucu kita nanti. Dapatkah seluruh kaum perempuan dapat belajar bersama menggunakan alat jahit sehingga kaum perempuan bisa membuatkan baju seragam sekolah anaknya sehingga tidak membeli dengan harga yang mahal di toko baju atau disupermarket. Semua itu tentu tidak akan terwujud kalau umur bangunan atau sarana tidak kita jaga dan kita pelihara, bahkan umur sarana akan lebih pendek jika sarana yang ada hanya kita biarkan saja, kita hanya bisa memakai namun tidak bisa memelihara dan melestarikanya.

Untuk itu lah bersama kita semua, perlu kerja sama dan saling peduli untuk sama-sama menjaga, memelihara dan melestarikan setiap kegiatan pembangunan yang ada di desa kita masing-masing, bukan untuk kita namun untuk seluruh warga masyarakat bahkan untuk anak-anak dan keluarga kita nanti. Sukses selalu.....................
( by FK Sungai Bahar)

Learn more »

UNTUK SAHABAT “KPMD”

Sengaja tulisan ini saya buat guna bahan dan renungan dan perhatian bagi sahabat-sahabat KPMD dan sumber inspirasi yang memicu semangat dalam pengabdian diri menjalankan tugasnya sebagai kader dalam program PNPM MPd.

Sahabat seperti yang kita ketahui dengan menjadi kader pemberdayaan masyarakat desa yang notabene itu bukanlah merupakan suatu pekerjaan  (profesi) tetapi kita (sahabat) di tunjuk sebagai tenaga sosial (sukarela) yang diperbantukan dengan pemerintahan desa untuk menjalankan dan memfasilitasi kegiatan yang berkenaan dengan program PNPM MP baik pemberdayaan maupun teknis.

Nah sahabat, tentunya sadar bahwa kita sebagai tenaga sosial masyarakat tentunya tahu peranan kita sebagai kader yang merupakan motor penggerak pembangunan yang tak pula kita pungkiri bahwa dalam pengabdian ini sahabat tidaklah akan mendapatkn timbal-balik yang setimpal khuususnya masalah penghasilan yang layak kendati para sahabat telah bekerja keras dalam menyuseskan program PNPM MP ini

Namun bukanlah sahabat harus pesismis dalam menjalani semua ini, janganlah pula karena materi yang menjadi penghalang bagi para sahabat tetapi hikmah dibalik itu tentunya yang mungkin sahabat belum terjadi dan dimengerti.

Pertama, seperti yang dikemukakan sebelumnya janganlah sahabat memandang diri sebagai kader adalah suatu pekerjaan atau profesi yang nantinya akan membebani diri kita sendiri tetapi jadikanlah itu sebagai bentuk ‘pengabdian “ kepada masyarakat yang timbul dari diri kita sendiri dalam membantu dalam pelaksanaan pembangunan di desa kita. Tidak semua orang ”masyarakat” yang mampu dan mau untuk menjalankan ini semua, jadi hanya para sahabat lah yang terpilih yang dipandang mampu dan itu sebenarnya suatu prestasi besar untuk sahabat itu sendiri.

Coba renungkan diri sendiri betapa bangganya kita ketika semua perjuangan para sahabat dapat terlaksana dan dapat dlaksanakan dan dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh masyarakat, suatu saat masyarakat akan memandanag dan menilai karir usaha keras kita selama ini yang tentunya akan dikenal dan dikenang untuk masa yang akan datang.

Kedua ‘ cobalah berkomunikasi’......
Sahabat tentunya juga sudah tahu bahwa dalam program ini bukanlah hanya para sahabat yang bekerja sendiri tetapi banyak pelaku-pelaku program lainnya di desa yang menjadi rekan kerja kita baik itu kepala desa, sekdes, TPK dan lain sebagainya, jalinlah komunikasi yang “mesra” dengan mereka saling memberi informasi dan jangan terpaku pada masalah program saja tetapi berkomunikasi tentang apapun yang menyangkut kepentingan desa masing-masing, saling memberi masukan dan bahkan kritik yang membangun adalah suatu pola pendekatan kita yang sejatinya nanti segala gagasan dan masukan para sahabat akan didengar dan diperhaatikan dan dipertimbangkan dan mungkin kelak para sahabat justru kan dibutuhkan dan dilibatkan dalam setiap program pembangunan didesa, itu artinya para sahabat telah diakui sebagai bagian dari aset desa sebagai salah satu pilot dalam memajukan dan membangun desa.

Jangan sahabat mempunyai kesan angker kalau sahabat mendatangi kantor kepala desa, buanglah rasa segan dan ogah untuk berkomunikasi dengan aparat desa, jadikanlah kesempatan itu untuk para sahabat beropini, berpendapat, mengadu dan kalau perlu berkeluh kesah agar mereka”aparat desa” mau mendengar dan memperhatikan segala upaya kita.
Intinya untuk para sahabat yuk...kita sebagai kader PNPM tetaplah semangat, penuh inspirasi dalam menyukseskan program ini dan jadikanlah usaha kita tidak sia-sia dan “iklas” untuk menjalaninya......”spirit never die”

By ‘Marijan sahabat”KPMD” Desa Marga Manunggal Jaya.
Learn more »

KPMD BLUSUKAN Kec. Sungai Bahar

Terlahirnya kembali KPMD lewat PNPM MPd di desa memfasilitasi segala mediasi dan mengawal beberapa program PNPM MPd dengan suvervisi dari fasilitator kecamatan.
Pelatihan memfasilitasi kegiatan diforum
KPMD selain mengendali pelaksanaan program didesa untuk memastikan bahwa kegiatan program berjalan sesuai prinsip dan prosedur PNPM juga berperan aktif  diberbagai alur tahapan-alur tahapan program PNPM dari MD Sosialisasi, penggalian gagasan pada MMDD,MDKP,MD prioritas,bahkan KPMD bukan hanya sekedar menggiring gagasan masyarakat yang diajukan dalam rangka mendapatkan bantuan dari PNPM semata, bahkan berperan serta menggiring  gagasan-gagasan  yang berkaitan langsung seperti penaggulangan kemiskinan RTM, KPMD juga sampai melahirkan rujukan RPJMDes mengusung gagasan-gagasan yang di sampaikan oleh masyarakat kepada instansi-instansi terkait di waktu yang berikutnya yang mana itu bagian dari tugas dan kewajipan dari pihak desa, melalui MMDD lah gagasan-gagasan itu dimunculkan kemudian dikawal hingga menuju RPJMDes yang dibingkai oleh KPMD.
Johan Hasanudin KPMD Mekar Sari Makmur
Justru KPMD lah agent culture of change di Desa.
PNPM cukup begitu jauh mengantarkan KPMD dan menyuguhkan beranekaragam materi pembelajaran pada pelatihan-pelatihan KPMD maupun materi instan yang diajarkan pada saat  alurtahapan-alurtahapan program dilapangan,Cukup banyak ilmu yang saya Dapat di PNPM pengalaman dan tambahan pengetahuan yang mewarnai perjajanan di KPMD. Melalui pelatihan-pelatihan dan kegiatan KPMD juga dikuatkan tentang beberapa materi yang disajikan seperti konsep pemberdayaan serta implementasinya dimasyarakat yang terpenting adalah nilai-nilai pemberdayaan yang  dilandasi dengan moral dan nurani serta sosial yang tinggi.

" Johan " mengutarakan
Berpangkal dari tujuan terlahirya KPMD merupakan cermin pantulan, Jika tujuan KPMD memberdayakan masyarakat secara umum,maka terlebih dahulu KPMD yang seharusnya diberdayakan dari beberapa sektor 
Blusukan KPMD Rakor Bulanan keliling Desa
KPMD yang menjadi milik Desa  diantaranya memberdayakan masyarakat, Program dan alur tahapan-alur tahapan yang cukup banyak harus dicover oleh KPMD didesa, sementara TUPOKSI KPMD hanya memfasilitasi bukan serta-merta menjadi promotor atau pelaku utama yang ada di Desa untuk tugas-tugas yang menjadi acuan atau rujukan program Desa jangka menengah dan jangka panjang dari alurtahapan diantaranya melalui berbagai rapat-rapat yang membahas gagasan-gagasan tujuan dari program yang merujuk pada RPJMDes


KPMD membawa dampak positif dikalangan masyarakat 
Kiprahnya yang mensosialisasikan pemberdayan mengangkat  kapasitas perekonomian RTM khususnya pada IBU-IBU  pengguna  dana SPP,maka beraneka ragam usaha-usaha rumahan yang bermunculan yang memberikan nilai tambah perekonomian baik yang dikelola secara individual maupun yang dikelola secara berkelompok
BINGKAI KPMD misterius 101 wajah
Tidak mengecilkan KPMD diberbagai Desa, Sebagian KPMD hanyalah sebagai pelengkap untuk mengugurkan kewajiban saja, sehingga sering kali terjadi pergantian KPMD diberbagai desa acapkali RAKOR Bulanan untuk menyampaikan laporan bulanan selalu hilang dan muncul wajah serta nama KPMD-KPMD baru sehingga beberapa ilmu pengetahuan yang disampaikan dibebera pelatihan-pelatihan hanya mampir tanpa bekas, minimnya perhatian dari Desa perlu dijewer.com Justru kadang KPMD lama dan KPMD yang mampu bertahanlah yang menjadi peluru untuk mengendalikan alur tahapan-alur tahapan program.
Kegiatan Rakor Bulanan Keliling Desa

Kendala lain
Beberapa sudut pandang masyarakat yang acuh tak acuh dengan aneka alurtahapan program juga sempat menggelitik pola pikir KPMD dalam mengatasi minimnya masyarakat yang peduli pada sosialisasi desa untuk menghadiri beberapa alurtahapan-alurtahapan program PNPM pada saat rapat  menggali permasalahan desa contohnya,mungkin disebabkan menurunya iklim perekonomian dan kepentingan-kepentingan individual serta surutnya kepercayaan masyarakat terhadap kepercayaan  program pemerintah yang selalu lamban dan kurang tepat sasaran dari pengawasan hingga sampainya bantuan program , meskipun PNPM adalah program unik yang selalu transparansi dan beberapa programnya langsung dikawal oleh masyarakat,Namun sebagian masyarakat sudah terlanjur merujuk pada keyakinan program lainnya
Saya pikir saya belum begitu paham tentang Program PNPM namun saya mendengar langsung dari beberapa Aparat Desa mengatakan kepada saya saat beliau menangani program PPIP bahwasanya Program PNPM  terlalu ribet dan banyak cengkunek begitu banyak alur tahapan-alur  tahapan yang harus dilalui, terlalu banyak Rapat, Rapat dan Rapat sementara program yang dikawal ya hanya itu-itu saja
Tak seperti instansi lain ujarnya Contohnya PPIP tidak begitu Ribet tapi terbukti langsung dimasyarakat bahkan ada alokasi-alokasi dana pantas untuk pelaku-pelakunya
Walaupun demikian dengan berbagai keunikan, harapan dan permasalahan yang ada, kami KPMD-KPMD yang ada di desa tetap menjadi pilot terdepan untuk tetap “ Bangga membangun desa “
( By Johan Hasanuddin, kpmd desa Mekar sari makmur kec. Sungai bahar )


Learn more »

PNPM-MPd Membangun Jalan Perdesaan dan Gedung TK Di Kecamatan Taman Rajo

PNPM Mandiri Perdesaan terus membangun sejumlah infrastruktur desa yang bermamfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat di desa, diantaranya jalan dan gedung TK. Sarana jalan dan gedung menjadi infrastruktur perdesaan yang sangat diperlukan. Tahun 2013 di kecamatan Taman Rajo terdapat 4 unit jalan sepanjang 2362 m dan gedung TK dibangun dengan dana PNPM-Mandiri Perdesaan dan swadaya masyarakat. Masing-masing jalan yang dibangun yakni di desa Kemingking Dalam ( 500 M ), desa Talang Duku ( 564 M ),  desa Dusun Mudo ( 423 M ) dan desa Kemingking Luar ( 875 M ). Gedung TK dibangun di desa Rukam 1 unit. 
Salah satu jalan yang dibangun dengan dana PNPM Mandiri Perdesaan terletak di dusun Talang Parit desa Kemingking Dalam kecamatan Taman Rajo.

Alokasi dana pembangunan jalan mencapai total Rp 90.406.000 yang terdiri dari Rp 88.856.000 dana dari PNPM Mandiri Perdesaan dan Rp 1.550.000 dari dana swadaya masyarakat. Jalan dengan panjang 500 meter dan lebar 2 meter tersebut dikerjakan oleh lebih kurang 15 warga selama 3 bulan. Jalan tersebut merupakan satu-satunya penghubung ke kebun warga. Sebelumnya hanya ada jalan semak,  warga yang hendak ke kebun harus melewati semak belukar melewati pohon karet dan pohon duku.Terkadang jika musim hujan tiba, jalan ke kebun sangat rusak dan becek sehingga menghambat warga yang akan ke kebun. Warga yang membawa hasil getah karet kesulitan karena jalan rusak. Jika musim panen duku tiba dan jalan becek dapat dipastikan harga duku sangat murah di tingkat petani duku, disebabkan biaya tambahan untuk trasportasi mengeluarkan duku dari kebun. Dengan adanya jalan tersebut masyarakat di desa bisa memamfaatkanya untuk membawa hasil kebun bahkan dengan kendaraan roda dua. Setiap harinya sekitar 200 pengguna jalan kaki maupun kendaraan roda dua lalu lalang dengan lancar di jalan tersebut.

Menurut warga desa Kemingking Dalam, Asmara Jonianto ( 43 tahun ) yang juga masuk dalam Tim Pengelola Kegiatan ( TPK ), jalan tersebut sudah sangat dinantikan oleh warga dusun Talang Parit khususnya. Sebab selama ini warga sangat kesulitan akses menuju ke desa Kemingking Dalam terutama untuk aktifitas perdagangan hasil perkebunan. Jika hendak membawa hasil kebun, warga sudah bisa langsung membawa kendaraan roda dua sampai ke kebun. Kini keterhubungan jalan ke kebun bisa lebih leluasa dan lancar berkat dibangunnya jalan tersebut.
Selain jalan produksi di desa Kemingking Dalam, PNPM Mandiri Perdesaan juga membangun jalan lingkungan di kecamatan Taman Rajo yang memudahkan warga untuk beraktifitas sehari-hari. Salah satunya yakni jalan rabat beton di desa Talang Duku. Panjang jalan tersebut mencapai 584 meter dengan lebar 2 meter dengan total dana Rp 114.807.000. Awalnya jalan rabat beton tersebut dibangun dengan lebar 1,5 meter, namun dengan tambahan swadaya masyarakat jalan rabat beton menjadi 584 meter dengan lebar 2 meter.

Selama lebih kurang 3 bulan jalan lingkungan tersebut dikerjakan oleh lebih dari 10 warga. Sebelumnya, jalan lingkungan tersebut sangat rusak, berlubang-lubang dan becek. Setiap hari warga yang yang tinggal di lingkungan itu terpaksa kotor jika musim hujan. Dengan adanya jalan rabat beton tersebut maka warga sudah nyaman dan bisa dilewati oleh roda dua maupun roda empat. Demi kelestarian jalan rabat beton itu, saat ini sudah terpasang portal melintang untuk membatasi tonase kendaraan yang melewatinya. Warga juga berswadaya membuat rambu-rambu lalu lintas berupa POLISI TIDUR, untuk membatasi kecepatan kendaraan yang lewat.

PNPM Mandiri Perdesaan juga membangun sarana pendidikan perdesaan yakni gedung TK sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terutama anak usia dini. Salah satunya yakni di desa Rukam kecamatan Taman Rajo. 

Gedung TK tersebut di desain dengan konstruksi panggung dan arsitekturnya meniru rumah adat setempat. Gedung TK seluas 48 meter persegi yang masih dalam tahap pembangunan ini, membutuhkan dana total Rp 174.394.000 yang terdiri dari Rp 173.544.000 dari dana PNPM Mandiri Perdesaan dan Rp 850.000 dari dana swadaya masyarakat.Sebanyak 30 murid TK dididik oleh 2 tenaga guru di gedung tersebut selama 6 kali dalam seminggu. Sebelumnya proses belajar dan bermain dilaksanakan disalahsatu rumah warga. Kondisi ruang yang terbatas membuat proses belajar dan bermain anak-anak TK tidak maksimal. Dengan adanya gedung TK yang memadai, diharapkan proses pendidikan murid TK bisa lebih ditingkatkan dan warga memiliki kemauan untuk menyekolahkan anak-anak mereka di TK. 
Semoga.......................!


                                                                                    TALANG DUKU, 18 DESEMBER 2013

Fasilitator teknik kecamatan


                                                                                                                   Tagor Pardosi


                                          SALAM KOMPAK..........

Learn more »

Air Bersih itu Akhirnya Sampai Ke Rumah



Mimpi menikmati air bersih dalam rumah ditengah keterbatasan sumber air ternyata bukanlah suatu hal yang mustahil. Terbukti, masyarakat Desa Ibru Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi kini sudah merasakan hal tersebut.
 
Berawal dari kesulitan yang dialami masyarakat selama ini dalam mendapatkan air bersih untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut namun selalu belum bisa terwujud. Bagaimana tidak, hingga kedalaman 15 meter masyarakat mencoba membangun sumur gali tetap belum menemukan sumber air yang diharapkan.
Jadilah selama bertahun-tahun masyarakat harus rela antri berdesak-desakan untuk menggunakan satu-satunya sumber air yang ada di desa berupa sumber mata air alami yang keluar dari tebing. Untungnya sumber air tersebut tetap bisa memenuhi kebutuhan masyarakat yang ada di desa dalam kondisi yang bagaimanapun. Meski bersyukur masih ada sumber air alami yang tersedia oleh alam tersebut bukan berarti hidup masyarakat tanpa masalah.Mengingat sumber air tersebut jauh berada di dasar jurang untuk menuju lokasi tersebut masyarakat harus rela berjalan turun naik bahkan hingga kilometer.
Ketika mentari belum menampakkan sinarnya masyarakat sudah harus berduyun-duyun datang  untuk memandikan anak-anak yang harus sekolah dan ibu-ibu yang harus antri untuk menampung air guna kebutuhan rumah tangga.Begitupula tatkala mentari menyinsing diufuk timur dan hari sudah gelap masyarakat masih harus antri untuk membersihkan diri dari aktivitas dikebun sehari-hari yang tentunya dengan bau badan yang menyengat karena keringat bercampur aroma khas dari “getah” (mayoritas masyarakat adalah petani karet).
Kondisi ini sangat mempengaruhi taraf hidup masyarakat baik dari sisi kesehatan maupun pendapatan ekonomi.Setidaknya ini disampaikan oleh Bapak Asmuri yang merupakan warga setempat, Dipagi hari yang seharusnya waktu paling produktif untuk menyadap karet harus terbuang sia-sia karena mangantri untuk mendapatkan air begitu pula sebaliknya setelah bergumul dengan karet seharian seharusnya sesegera mungkin membersihkan diri supaya tidak terkena penyakit kulit tidak bisa dilakukan karena harus antri untuk mandi dengan masyarakat lain. Hingga akhirnya tahun 2008 Kecamatan Mestong mendapatkan alokasi dana PNPM-Mandiri Pedesaan.
Melalui musyawarah desa perencanaan masyarakat sepakat untuk mengusulkan pembangunan pompanisasi air bersih dan forum MAD melalui MAD Penetapan Usulan tingkat kecamatan menyetujui untuk mendanai usulan tersebut di Desa Ibru dengan total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 136.129.800 (fisik), Rp      4.298.800 operasional TPK), Rp. 2.865.900 (operasional UPK), serta didukung swadaya      masyarakat sebesar Rp. 6.437.500.
Masyarakat desa pun menyambut bantuan tersebut dengan bersama-sama membangun pompanisasi tersebut hingga akhirnya terwujud. Dibawah koordinasi Kepala Desa, masyarakat merencanakan pola pembangunan pompanisasi tersebut hingga disepakati dari sumber air dibuat bak penampung. Dari bak penampung tersebut air disalurkan dengan menggunakan mesin ke bak penampung lainnya yang di letakkan diatas bangunan tower dengan ketinggian kurang lebih 10 Meter. Dari tower inilah air kemudian disalurkan kerumah-rumah masyarakat hanya dengan mengandalkan tekanan grafitasi bumi melalui pipa-pipa penyalur.
Bukan hanya dalam membangun, masyarakat juga terus berupaya untuk melestarikan bangunan pompanisasi tersebut dengan membuat Perdes tentang pengelolaan pompanisasi. Hingga sekarang, setelah 4 tahun berjalan pompanisasi air bersih tersebut terus beroperasi memenuhi kebutuhan masyarakat,  tidak hanya di desa Ibru bahkan sekarang air bersih tersebut juga sudah dinikmati oleh desa tetangga yakni desa Suka Damai.
Masyarakat juga sudah merasakan manfaat yang nyata dari pembangunan pompanisasi tersebut. Tidak adalagi terlihat antrian dimana  biasanya masyarakat berebut air karena air sudah sampai ke rumah-rumah penduduk. Masyarakat sudah bisa bekerja mencari nafkah dengan tenang tanpa harus berbagi waktu dengan mencari air. Tidak hanya sampai disitu, bahkan ada beberapa masyarakat yang memanfaatkan air pompanisasi tersebut untuk membuka usaha sampingan guna menambah income keluarga dengan membuat usaha cucian motor. (fk mestong/iec-jambi)
Learn more »